BIAK | GEMA TIFA PAPUA NEWS – Kepergian tokoh besar masyarakat adat Papua, Mananwir Beba Yan Pieter Yarangga, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat adat di Tanah Papua. Namun, wafatnya sosok yang dikenal sebagai salah satu pejuang hak-hak masyarakat adat tersebut tidak akan menghentikan semangat perjuangan yang selama ini telah dibangun.

Ketua Dewan Adat Papua (DAP), Dominikus Sorabut, menegaskan bahwa kepergian almarhum justru menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan melanjutkan cita-cita perjuangan masyarakat adat Papua.

 

Penegasan tersebut disampaikan Sorabut seusai menghadiri upacara perkabungan (aidorama) di kediaman almarhum, Kamis malam (5/11/2026). Dalam kesempatan itu, ia secara resmi mengumumkan bahwa Dewan Adat Papua telah menetapkan tanggal 2 November sebagai Hari Perkabungan Nasional Masyarakat Adat Papua.

“Hari ini, 5 November 2026, kita berkumpul di aidoram Mananwir Bapak Yan Pieter Yarangga yang telah dipanggil oleh Tuhan pada 2 November. Dalam pleno khusus, kami telah menetapkan tanggal 2 November sebagai hari perkabungan nasional. Setiap tahun, tanggal ini akan diperingati sebagai hari sejarah bagi pemimpin besar,” ujar Sorabut kepada awak media.

Selain penetapan hari perkabungan nasional, DAP juga secara resmi mengukuhkan almarhum Yan Pieter Yarangga sebagai Pemimpin Besar Masyarakat Adat Papua.

DAP Tegaskan Soliditas dan Persatuan Masyarakat Adat

Dalam keterangannya, Sorabut turut menekankan pentingnya menjaga soliditas dan persatuan organisasi Dewan Adat Papua. Ia mengakui bahwa perjalanan organisasi tidak terlepas dari berbagai dinamika internal. Namun, menurutnya, DAP kini berkomitmen untuk tetap bersatu melalui kepemimpinan kolektif yang selama ini dibangun bersama almarhum.

“Kepergian beliau sedikit pun tidak menurunkan niat kami. Kami akan tetap solid, mulai dari tujuh wilayah adat, Dewan Adat Daerah, hingga ke tingkat suku dan marga,” tegasnya.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan almarhum sekaligus memperkuat konsolidasi masyarakat adat, DAP berencana menggelar konferensi besar dan pesta adat terbesar pada Maret 2027 mendatang di Manokwari Selatan.

Kegiatan tersebut direncanakan melibatkan masyarakat adat dari kawasan Pasifik, Asia, komunitas internasional, serta berbagai pihak yang selama ini bergerak dalam perjuangan dan pemberdayaan masyarakat adat.

“Kami akan mengundang masyarakat adat Pasifik, Asia, internasional, serta para pekerja masyarakat adat. Semangat Bapaklah yang menggerakkan kita untuk terus bekerja,” ungkap Sorabut.

Tiga Isu Eksistensial Menjadi Fokus Perjuangan DAP

Lebih lanjut, Sorabut menjelaskan bahwa perjuangan masyarakat adat Papua ke depan akan tetap berfokus pada tiga persoalan mendasar yang disebut sebagai isu eksistensial atau ekosedan, yakni ancaman terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat adat Papua.

Ketiga isu tersebut meliputi:

1. Penyelamatan Lingkungan Hidup

DAP berkomitmen memperjuangkan perlindungan hutan, laut, tanah adat, serta seluruh kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adat Papua dari berbagai ancaman eksploitasi.

2. Penyelamatan Identitas dan Budaya Masyarakat Adat

Perjuangan ini mencakup perlindungan bahasa daerah, tempat-tempat sakral dan spiritual, serta keberadaan suku dan marga sebagai identitas yang diwariskan secara turun-temurun kepada generasi penerus.

3. Perjuangan Menuju Kota Sion

Isu ini merupakan bagian dari perjuangan spiritual dan politis masyarakat adat Papua mengenai cita-cita memiliki ruang kehidupan, martabat, serta kedaulatan yang dimaknai sebagai Kota Sion atau tanah yang dijanjikan.

Sorabut menilai bahwa ancaman terhadap bahasa, budaya, tempat-tempat spiritual, dan identitas marga merupakan persoalan serius yang harus mendapat perhatian bersama.

“Orang lain memaksakan kita harus berbahasa Indonesia dan tidak boleh berbahasa daerah. Kita sedang berjuang menyelamatkan bahasa, tempat spiritual, dan marga kita. Tiga isu besar ini adalah jalan bagaimana orang Papua memiliki Kota Sion,” jelasnya.

Kepergian Sang Mananwir, Awal Babak Baru Perjuangan

Menutup keterangannya, Sorabut menegaskan bahwa wafatnya Mananwir Yan Pieter Yarangga bukanlah akhir dari perjalanan perjuangan masyarakat adat Papua. Sebaliknya, peristiwa tersebut harus menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat adat untuk memperkuat persatuan, menjaga warisan leluhur, serta melanjutkan cita-cita yang telah diperjuangkan almarhum.

Ia juga mengungkapkan keyakinannya bahwa semangat dan nilai-nilai perjuangan almarhum akan tetap hidup serta menjadi pedoman bagi generasi penerus masyarakat adat Papua.

“Semangat hari ini akan menjadi babak baru bagi kami untuk merangkai dan menyelesaikan problematika baru di atas tanah dan kehidupan rakyat Papua,” pungkasnya.

Duka boleh menyelimuti Tanah Papua, tetapi perjuangan tidak boleh berhenti. Kepergian seorang pemimpin adat memang meninggalkan ruang kehilangan yang mendalam, namun warisan pemikiran, keteladanan, dan semangat pengabdiannya harus tetap hidup dalam hati masyarakat adat.

Sebab, seorang pemimpin sejati tidak hanya dikenang karena jabatan yang pernah disandangnya, tetapi juga karena nilai perjuangan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

**Selamat jalan, Mananwir Beba Yan Pieter Yarangga. Namamu menjadi bagian dari sejarah, perjuanganmu menjadi warisan, dan semangatmu akan terus hidup dalam perjalanan masyarakat adat Papua.(Red/GTP)