BIAK | GEMA TIFA PAPUA NEWS – Pengurus Provinsi (Pengprov) Hoki Papua secara resmi mengumumkan pelaksanaan event “Fun Game Hoki” yang akan berlangsung di Lapangan Mandala, Kabupaten Biak Numfor, pada 22 hingga 24 Oktober 2026. Ketua Pengprov Hoki Papua, Yotam Wakum, S.H., menyatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kompetisi rekreasi, melainkan sebuah instrumen strategis untuk pemetaan talenta (talent scouting) dan regenerasi atlet hoki menuju Pra-PON serta PON XXI Papua 2028.

Dokumentasi Atlet Hockye di lapangan Mandala Biak

Dalam keterangannya kepada awak media di Lapangan Mandala Biak, Selasa (13/10/2026) sore, Yotam Wakum memaparkan bahwa antusiasme institusi pendidikan terhadap cabang olahraga (cabor) hoki menunjukkan tren positif yang signifikan. Tercatat sekitar 20 tim dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), telah mendaftarkan diri.

“Total partisipasi mencapai lebih dari seratus atlet muda. Ini menunjukkan basis penggemar dan peminat hoki di Biak Numfor yang luar biasa. Kami menargetkan hoki menjadi olahraga idola yang mengakar kuat di masyarakat,” ujar Yotam.

Kaderisasi dan Transfer Ilmu dari Atlet Elite

Dari perspektif pembinaan olahraga berkelanjutan, event ini dirancang sebagai kawah candradimuka bagi bibit-bibit unggul. Yotam menegaskan bahwa kompetisi ini sekaligus berfungsi sebagai mekanisme seleksi alamiah untuk menyusun skuad Pra-PON.

Proses kaderisasi ini diperkaya dengan “transfer of knowledge” dari atlet elit nasional. “Kebetulan, dua atlet hoki kebanggaan Papua baru saja kembali dari Asian Games di Nagoya, Jepang. Mereka kini telah tiba di Biak dan langsung berbaur untuk membimbing adik-adik yuniornya di lapangan,” jelasnya. Kehadiran atlet berprestasi internasional ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi intrinsik dan standar teknis permainan para atlet junior.

Implikasi Sosio-Ekonomi dan Partisipasi Publik

Lebih jauh, Yotam menyoroti implikasi sosio-ekonomi dari penyelenggaraan event ini. Ia juga menginformasi kepada seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi, menciptakan ekosistem yang mendukung perputaran ekonomi lokal.

“Olahraga ini terbuka untuk umum. Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat, termasuk ibu-ibu yang ingin berjualan pinang maupun komoditas lainnya di area Lapangan Mandala. Event ini akan berlangsung dari pagi hingga sore selama tiga hari, sehingga diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi mikro di sekitar venue,” paparnya.

Resiliensi di Tengah Keterbatasan Sponsor

Menyinggung tentang dinamika penyelenggaraan, Yotam secara transparan mengungkapkan bahwa agenda awal pihaknya adalah menyelenggarakan Festival Hoki Internasional. Namun, keterbatasan dukungan sponsor memaksa panitia melakukan rasionalisasi skala event menjadi kompetisi antar-sekolah.

Meskipun demikian, resiliensi ini justru direspons positif oleh ekosistem pendidikan di Biak. “Dukungan dari para guru dan sekolah sangat luar biasa. Mereka proaktif menyumbangkan atlet terbaiknya untuk bertanding,” imbuhnya.

Menutup pernyataannya, Yotam mengajak orang tua dan tenaga pendidik untuk hadir secara langsung di Lapangan Mandala. Kehadiran mereka dinilai bukan hanya sebagai bentuk dukungan moral, tetapi juga sebagai validasi sosial terhadap perkembangan psikologis dan motivasi anak-anak dalam berprestasi di bidang olahraga.