JAYAPURA | GEMA TIFA PAPUA NEWS — Sorotan terhadap pelayanan kesehatan di RSUD Dok II Jayapura kembali mencuat setelah keluarga seorang pasien menyampaikan keluhan terhadap pelayanan dokter berinisial J.

Keluarga mempertanyakan proses pemeriksaan dan komunikasi medis yang mereka alami selama pasien menjalani perawatan. Mereka menilai terdapat sejumlah hal yang perlu dijelaskan secara terbuka, terutama terkait pemeriksaan pasien sebelum keputusan untuk memperbolehkan pasien pulang.

Menurut keterangan keluarga, pasien pada saat itu masih merasa belum pulih. Namun, pasien disebut telah diarahkan untuk pulang meski keluarga mengaku belum memperoleh penjelasan yang mereka anggap memadai mengenai kondisi medis pasien.

Peristiwa tersebut disebut terjadi pada 23 September 2026.

«“Saya belum sembuh, belum diperiksa dokter, kenapa disuruh pulang?” demikian keluhan pasien yang disampaikan pihak keluarga.»

Pemeriksaan Dokter Dipertanyakan

Keluarga mengaku mempertanyakan intensitas pemeriksaan langsung yang dilakukan dokter selama pasien menjalani pelayanan.

Dalam keterangannya, keluarga menyebut komunikasi ketika berada di ruang konsultasi lebih banyak dilakukan oleh asisten dokter. Sementara dokter berinisial J, menurut kesaksian keluarga, disebut lebih banyak diam dan menggunakan telepon seluler.

Keterangan tersebut menjadi dasar bagi keluarga untuk mempertanyakan apakah sebelum pasien diarahkan pulang telah dilakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh dan apakah keputusan tersebut telah disertai penjelasan mengenai kondisi pasien.

Keluarga Minta Transparansi

Bagi keluarga, persoalan utama bukan sekadar keputusan pasien untuk pulang. Mereka meminta agar setiap keputusan medis disampaikan secara transparan kepada pasien dan keluarga.

Keluarga berharap dokter dapat menjelaskan hasil pemeriksaan, kondisi pasien, alasan medis pasien diperbolehkan pulang, serta langkah perawatan yang harus dilakukan setelah meninggalkan rumah sakit.

«“Kami bukan mencari masalah. Kami hanya ingin pasien mendapatkan pelayanan yang benar. Kalau memang sudah boleh pulang, jelaskan kondisi medisnya kepada kami. Jangan keluarga dibiarkan bingung,” ujar pihak keluarga.»

Muncul Klaim Keluhan Serupa

Selain pengalaman yang dialami keluarganya, pihak keluarga juga mengaku pernah mendengar keluhan dari pasien lain yang disebut pernah mendapatkan pelayanan dari dokter yang sama.

Keluhan yang disebutkan antara lain berkaitan dengan pemeriksaan langsung, kunjungan dokter, serta komunikasi antara dokter dengan pasien dan keluarga.

Akan tetapi, klaim mengenai pasien lain tersebut belum terverifikasi secara independen. Karena itu, informasi tersebut tidak dapat dijadikan kesimpulan bahwa telah terjadi pola pelayanan yang sama.

Diperlukan klarifikasi dan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait untuk memastikan kebenarannya.

Manajemen Rumah Sakit Diminta Tidak Mengabaikan Keluhan

Keluarga berharap manajemen RSUD Dok II Jayapura tidak mengabaikan keluhan tersebut dan dapat melakukan evaluasi apabila memang terdapat persoalan dalam proses pelayanan.

Menurut keluarga, rumah sakit merupakan tempat masyarakat mencari pertolongan ketika berada dalam kondisi membutuhkan pelayanan kesehatan. Karena itu, komunikasi yang jelas antara tenaga medis, pasien, dan keluarga dinilai sangat penting.

Keluarga juga meminta agar setiap keluhan pasien dapat ditangani melalui mekanisme pengaduan resmi sehingga persoalan dapat diperiksa berdasarkan fakta dan rekam medis, bukan hanya berdasarkan asumsi dari salah satu pihak.

MKEK dan Lembaga Berwenang Diharapkan Memberikan Ruang Klarifikasi

Keluarga meminta manajemen RSUD Dok II Jayapura, Dinas Kesehatan Provinsi Papua, serta lembaga profesi dan disiplin kedokteran yang berwenang untuk memberikan ruang klarifikasi apabila diperlukan.

Jika berdasarkan pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran terhadap standar pelayanan, kode etik, atau disiplin profesi, keluarga berharap proses penanganannya dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tindakan dokter telah sesuai prosedur medis, keluarga juga berharap penjelasan tersebut disampaikan secara terbuka sehingga persoalan tidak berkembang menjadi kesalahpahaman.

(Penulis : Chris )