YAPEN | GEMA TIFA PAPUA NEWS – Gelaran perdana Festival Arus Ansus 2026 yang berlangsung pada 7 hingga 9 Oktober 2026 di Kampung Ansus, Distrik Yapen Barat, Kabupaten Kepulauan Yapen, telah resmi ditutup. Event ini bertransformasi dari sekadar perayaan folklor menjadi sebuah manifestasi gerakan (*movement*) kultural untuk merevitalisasi identitas maritim, etnografi, dan kemandirian ekonomi masyarakat adat Ansus.

Ketua Panitia Pelaksana, Pdt. Johanis P. Menanti, S.Th., dalam keterangan resminya kepada awak media, Minggu (11/10/2026) malam, memaparkan filosofi dan landasan sosiologis di balik nomenklatur “Arus”. Secara terminologis, ‘Arus’ dimaknai sebagai sebuah pergerakan yang mengarah pada upaya rekonstruksi dan konservasi nilai-nilai leluhur.

“Arus merupakan pergerakan, sebuah *movement*. Ini adalah suatu gerak di mana kita kembali ke masa-masa saat Ansus bermula dengan tradisi dayung. Terdapat dayung indah, dayung cegah, dan dayung anak-anak. Hal ini menjadi entitas kultural yang menjadi perhatian penting untuk terus ditingkatkan,” papar Pdt. Johanis Menanti.

Legitimasi Nasional dan Validasi Akademis

Signifikansi kultural dari Festival Arus Ansus mendapatkan validasi strategis dari pemerintah pusat. Festival ini secara resmi memperoleh dukungan pendanaan dari **Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui skema Hibah Dana Indonesiana**, serta bersinergi dengan **Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)**. Dukungan institusional tingkat nasional ini menegaskan bahwa agenda pemajuan budaya di Ansus sejalan dengan peta jalan kebudayaan negara.

Validasi akademis turut hadir melalui pelibatan langsung peneliti dan akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tim peneliti yang terdiri dari Koes Yuliadi, Jeanet Mocodompis, Agustina Raru, dan Dimas Ananda turut serta dalam pemetaan, dokumentasi, dan pengkajian budaya. Sinergi antara masyarakat adat, pemerintah pusat, dan institusi akademis ini membuktikan bahwa festival ini memiliki bobot antropologis yang kuat dalam menjaga memori kolektif masyarakat Papua.

Sinergitas Institusional dan Patronase Kultural

Keberhasilan festival ini tidak lepas dari ekosistem dukungan yang solid, baik dari institusi negara maupun tokoh masyarakat. Di tingkat lokal dan regional, festival ini mendapatkan dukungan strategis dari **Bank Papua**, serta kehadiran dan dukungan moril dari **Kepala Distrik Ansus** dan **Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Kepulauan Yapen, Bpk. Rian Hendri**. Kehadiran unsur legislatif dan distrik menunjukkan bahwa pelestarian budaya juga menjadi perhatian utama para pemangku kebijakan.

Di sisi lain, kemandirian masyarakat adat juga tercermin dari kuatnya patronase kultural yang diberikan oleh tokoh-tokoh swasta dan masyarakat. Panitia mencatat apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan sponsor dari Bank Papua, Bpk. Koes Yuliadi, Bpk. Ronny Worabay, Bpk. Yohanis G. Raubaba, serta rekan-rekan dari luar daerah yang terus berperan aktif.

Stabilitas Kamtibmas dan Apresiasi Penegak Hukum

Dari perspektif keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), festival ini berjalan dengan kondusif dan mendapat apresiasi tinggi dari penegak hukum. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran ‘Ibu Kapolres Yapen” yang secara langsung meninjau dan memberikan dukungan pada hari terakhir kegiatan (9 Oktober). Kehadiran unsur kepolisian ini menegaskan bahwa Festival Arus Ansus tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekspresi budaya, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi sosial yang positif dan aman bagi masyarakat luas.

Katalisator Ekonomi Kerakyatan dan Catatan Kritis

Dari perspektif ekonomi kerakyatan, festival ini berfungsi sebagai katalisator perputaran ekonomi kreatif lokal. Adanya perputaran uang di tingkat akar rumput, penjualan kuliner khas Papua, dan hiburan rakyat membuktikan bahwa pelestarian budaya memiliki *multiplier effect* (efek ganda) yang nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.

Namun, terdapat sebuah anomali dalam tata kelola pendanaan di tingkat lokal yang layak untuk dianalisis secara kritis. Pdt. Menanti mengungkapkan bahwa panitia sama sekali tidak menerima alokasi anggaran dari Pemerintah Daerah. Hal ini disinyalir akibat kebijakan efisiensi anggaran dan kondisi makro ekonomi daerah. Fenomena ini secara tidak langsung menunjukkan tingginya modal sosial (*social capital*) masyarakat Ansus dalam mempertahankan eksistensi budayanya di tengah keterbatasan alokasi anggaran daerah.

Harapan Keberlanjutan (Sustainability)

Kendati berhasil dilaksanakan secara mandiri dengan dukungan lintas sektor, panitia secara terbuka memberikan catatan kritis bagi pemangku kebijakan. Menanti menegaskan bahwa agar tradisi dan identitas ciri khas orang Ansus tidak tergerus oleh arus modernisasi, diperlukan intervensi dan atensi strategis dari Pemerintah Daerah di tahun-tahun mendatang.

“Kami berharap tahun depan ada perhatian yang lebih baik dari pemerintah secara khusus. Sehingga di tahun depan dan tahun-tahun seterusnya, Festival Arus Ansus dapat terus dieksekusi secara berkelanjutan (*sustainable*), sebagai benteng pertahanan agar budaya yang menjadi identitas ciri khas orang Ansus dan Papua secara khusus tidak hilang,” tutupnya.

Kepada masyarakat Serui pada khususnya dan masyarakat Papua pada umumnya, Festival Arus Ansus 2026 telah membuktikan bahwa identitas masyarakat adat mampu bangkit dan berdiri tegak. Kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan RI, akademisi, aparat penegak hukum, legislatif, dan masyarakat ini menjadikannya pilar kokoh pelestarian warisan leluhur di Tanah Papua.