BIAK | GEMA TIFA PAPUA NEWS – Gema nyanyian etnik tidak lagi sekadar memantul di dinding lembah atau pesisir Biak. Lebih dari itu, ia kini menjadi lonceng kebangkitan identitas, sekaligus “gema kebudayaan” yang membawa kearifan lokal Papua menembus batas samudra, menuju panggung Melanesia hingga ke Republik Seychelles.

Visi besar dan menakjubkan ini diungkapkan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Biak, Turbey Onesimus Dangeubun, saat menemui awak media di KSL Biak, Selasa (20/10/2026). Di balik penyelenggaraan Lomba Paduan Suara Etnik Bahasa Biak, tersimpan sebuah strategi kebudayaan yang brilian untuk menyelamatkan memori kolektif generasi muda, sembari membuka gerbang ekonomi dan “jalinan budaya” global bagi Tanah Papua.
Menyemai Benih Cinta Budaya Lewat Nada
Langkah pertama yang digagas oleh Dinas Pariwisata Biak ini menyentuh langsung akar rumput: generasi penerus. Turbey mengungkapkan bahwa lomba paduan suara etnik ini diikuti oleh 11 grup dari tingkat SMP dan 8 grup dari tingkat SMA/SMK se-Biak.
Namun, ini bukan sekadar kompetisi vokal. Turbey menegaskan bahwa lagu adalah “kendaraan” paling sempurna untuk mengangkut filosofi hidup dan adat istiadat.
“Tujuan pertama kita adalah membangun kesadaran kolektif anak-anak di tingkat menengah agar mereka mencintai warisan luhurnya. Kita ingin ada memori kolektif dari anak-anak kita tentang adat, budaya, dan kebanggaan akan identitas mereka lewat lagu,” ujar Turbey dengan tatapan penuh harap.
Melalui ekosistem komunitas paduan suara di sekolah-sekolah, Turbey ingin memastikan bahwa anak-anak Biak tidak hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri. Lewat musik, mereka dikader menjadi garda terdepan penjaga budaya orang Biak.
Skala Melanesia: Merajut Persaudaraan Tujuh Wilayah Adat
Kesadaran lokal yang telah disemai di Biak ini kemudian tidak disimpan sendirian. Turbey mengumumkan sebuah “lompatan raksasa” dengan melakukan “scale up” Festival Budaya Biak ke dalam lingkup yang jauh lebih megah: Melanesia.

Menurut Turbey, Melanesia di NKRI bukan sekadar istilah geografis, melainkan ikatan darah dan budaya yang membentang dari Tanah Papua, Maluku, Maluku Utara, NTT, hingga NTB, bersanding dengan negara-negara sahabat di kawasan Pasifik.
“Kita ingin memperkuat “pertukaran” budaya, memantapkan kerja sama, dan menggerakkan ekonomi kawasan,” tegasnya.
Lebih jauh, Turbey menekankan bahwa inisiasi ini adalah perekat persaudaraan di antara tujuh wilayah adat di Papua. “Secara administrasi kita boleh berbeda wilayah, tetapi kesatuan adat dan budaya harus tetap kita pastikan terjaga. Ini adalah kekuatan kita,” tambahnya.
Panggung Global: ‘Apen Beyeren’ dan ‘Papeda’ Bersiap Menuju Seychelles
Puncak dari kekaguman dan visi global ini terungkap ketika Turbey membocorkan kolaborasi lintas benua yang sedang dijalin. Melalui diskusi terbatas dengan Duta Besar Republik Seychelles untuk Indonesia, sebuah pintu gerbang internasional telah terbuka lebar.
Dubes Seychelles berkomitmen untuk memfasilitasi dan mendorong budaya Biak, yakni “Apen Beyeren”, untuk dipromosikan di negara kepulauan di Samudra Hindia tersebut. Yang lebih menakjubkan, “Apen Beyeren” tidak akan berjalan sendirian. Ia akan membersamai teman-teman dari wilayah adat Tabi di Sentani, Kabupaten Jayapura, yang akan memperkenalkan kuliner legendaris Papua: Papeda”.
“Ini sebuah lompatan baru. Kita berharap inisiasi dan investasi budaya yang didorong ini bisa menjadi pintu masuk bagi dunia internasional untuk mengenal Biak secara utuh—budayanya, wisatanya, dan kearifan lokalnya, tetapi juga secara umum mengenal orang Papua,” pungkas Turbey menutup pernyataannya.
GEMA TIFA PAPUA NEWS mencatat, apa yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Biak ini adalah sebuah manifestasi cinta yang nyata. Dari ruang kelas SMP dan SMA, nada-nada etnik digelorakan. Dari meja perundingan antar bangsa, “Apen Beyeren” dan “Papeda” disiapkan untuk menaklukkan dunia.
Biak tidak lagi sekadar kota transit. Biak kini adalah pusat “kebangkitan” budaya, denyut nadi yang memastikan bahwa identitas Melanesia dan kearifan Papua akan terus bergema,diakui, dan dihormati di mata dunia.
Penulis : Anis/Tonny







