BIAK | GEMA TIFA PAPUA NEWS – 17 Oktober 2026 – Kabupaten Biak Numfor bersiap menggelar Festival Budaya Biak Melanesia yang dijadwalkan berlangsung mulai hari ini, Sabtu (17/10), hingga Jumat (21/10) mendatang.

Wakil Bupati Kabupaten Biak Numfor , Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, S.H.melalui awak media : Hingga malam menjelang pembukaan, persiapan fisik acara dilaporkan telah mencapai progres 99 persen, menandakan kesiapan penuh pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyambut perhelatan akbar tersebut.

Wakil Bupati Biak Numfor, dalam pernyataannya pada Jumat (16/10) malam, mengungkapkan rasa syukur dan optimisme atas kelancaran persiapan. “Atas kasih dan anugerah Tuhan, persiapan fisik hampir rampung sepenuhnya. Kami optimis bahwa matahari terbit esok hari akan membawa cahaya berkat bagi masyarakat Biak Numfor. Ada sukacita mendalam karena festival ini diyakini akan terselenggara dengan baik,” ujarnya.

Inovasi di Tengah Tantangan Strategis

Penambahan kata “Melanesia” pada nama festival tahun ini bukan sekadar perubahan identitas, melainkan sebuah ikhtiar strategis. Setelah dua tahun sebelumnya hanya bertajuk Festival Budaya Biak (2024 dan 2025), tahun 2026 menjadi momentum transformasi dengan mengadopsi semangat persaudaraan rumpun Melanesia yang lebih luas.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tantangan dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, serta sebagai implementasi komitmen daerah terhadap Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,

khususnya dalam penanganan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang mencakup wilayah-wilayah Melanesia.

“Melanesia dalam konteks ini merepresentasikan daerah-daerah yang mungkin secara geografis terisolasi, namun ‘merindukan jamahan dan perhatian’. Namun, isolasi tidak boleh mematikan inovasi. Kita harus melahirkan kreativitas agar setara dengan daerah lain. Penambahan nama Melanesia adalah bentuk inovasi konten festival yang dikemas dengan baik sehingga layak mendapatkan pengakuan dan penghargaan nasional setiap tahunnya,” jelasnya.

Biak Sebagai Hub Budaya Pasifik

Festival tahun ini dirancang bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan sebagai wadah pelestarian akar budaya yang membentuk karakter generasi penerus. Lebih jauh lagi, event ini bertujuan menjadikan Biak Numfor sebagai hub atau pusat pertemuan budaya bagi seluruh rumpun Melanesia.

Peserta dan tamu undangan tidak hanya berasal dari Biak, tetapi juga melibatkan saudara-saudara dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara, hingga seluruh provinsi di Tanah Papua dan Papua Barat Daya. Kehadiran mereka diharapkan memperkaya khazanah seni budaya lokal sekaligus menarik minat wisatawan domestik maupun internasional, termasuk dari negara-negara kepulauan Pasifik.

Mendorong Konektivitas dan Ekonomi Lokal. 

Di balik gelaran budaya ini, terdapat harapan besar untuk mengembalikan konektivitas udara Biak Numfor yang sempat mengalami penurunan drastis dibandingkan era kejayaan maskapai Garuda dan Merpati di masa lalu. Saat ini, akses udara ke Biak sangat terbatas dan banyak bergantung pada hub Jayapura.

Pemerintah Daerah menyadari bahwa subsidi APBD untuk mengisi kursi pesawat yang kosong bukanlah solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Oleh karena itu, strategi yang ditempuh adalah menciptakan demand atau permintaan pasar melalui festival berskala besar.

“Dengan mendatangkan ribuan pengunjung dari Serui, Yapen, Waropen, Jayapura, Sorong, Manokwari, hingga Maluku, kita menciptakan ekosistem ekonomi yang bergerak. Perputaran uang akan terasa bagi pelaku UMKM, dan yang terpenting, kepadatan penumpang ini menjadi argumen kuat bagi kami untuk bernegosiasi dengan pemerintah pusat dan maskapai penerbangan demi mengembalikan rute langsung ke Biak,” tambah Wakil Bupati.

Menjaga Zona Nyaman dan Aman

Mengingat Biak Numfor dikenal sebagai kota yang aman dan nyaman, seluruh elemen masyarakat dihimbau untuk menjaga kondusifitas selama festival berlangsung. Aparat keamanan TNI dan Polri, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, cendekiawan, serta ASN diminta bersinergi memastikan ketertiban umum.

“Biak Numfor adalah kota beriman, bersih, dan aman. Mari kita jaga reputasi ini. Saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memberikan restu dan doa, serta turut menjaga keamanan bersama. Dengan demikian, Festival Budaya Biak Melanesia 2026 tidak hanya sukses secara acara, tetapi juga meninggalkan kesan positif tentang keramahan dan ketertiban warga Biak,” pungkasnya.

Dengan tema yang mengangkat martabat budaya Melanesia dan visi konektivitas yang lebih luas, Festival Budaya Biak Melanesia 2026 diharapkan menjadi tonggak baru bagi kebangkitan pariwisata dan ekonomi Kabupaten Biak Numfor di mata dunia.

Dua Event Masuk dalam Kalender Event Nusantara (KEN)

Kabupaten Biak Numfor kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dalam seleksi terbaru untuk Kalender Event Nusantara (KEN), daerah ini berhasil menempatkan dua acara budayanya, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih oleh kabupaten atau kota lain di seluruh Tanah Papua. Sebelumnya, perwakilan Papua dalam KEN umumnya terbatas pada satu event per daerah, seperti Festival Danau Sentani dari Kabupaten Jayapura, Festival Lembah Balim dari Wamena, serta Festival Munara Wampasi yang sebelumnya menjadi andalan Biak Numfor.

Kemenangan ini kian istimewa karena pengakuan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia tersebut diterima sebelum pelaksanaan puncak acara. Festival Budaya Biak Melanesia, yang menjadi salah satu pilar utama keberhasilan ini, telah resmi diakui dan diapresiasi oleh pemerintah pusat sebagai bagian dari warisan budaya nasional yang layak dipromosikan secara luas.

“Kami mengucapkan syukur yang mendalam. Belum genap festival dimulai, namun kita telah terlebih dahulu menerima pengakuan prestisius dari pemerintah pusat. Ini adalah bukti bahwa kekayaan budaya Biak Melanesia memiliki daya tarik dan nilai strategis yang tinggi,” ungkap perwakilan Pemkab Biak Numfor.

Sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan infrastruktur dan efisiensi anggaran, venue yang saat ini sedang dipersiapkan untuk Festival Budaya Biak Melanesia tidak akan dibongkar setelah acara selesai. Rencananya, fasilitas tersebut akan dialihfungsikan untuk mendukung perayaan Kampung Natal yang akan digelar pada bulan Desember mendatang. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam memaksimalkan aset publik untuk berbagai kegiatan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Biak Numfor juga menegaskan komitmennya untuk terus berkolaborasi sinergis dengan Pemerintah Provinsi Papua. Sinergi ini sejalan dengan program kerja Gubernur Papua, Bapak Matius D Fakhiri, dan Wakil Gubernur Papua, Bapak Aryoko Rumaropen, guna memperkuat ekosistem pariwisata dan pelestarian budaya di Bumi Cendrawasih. Dengan dukungan penuh dari pusat dan provinsi, Biak Numfor optimis dapat menjadi destinasi unggulan yang memadukan kearifan lokal dengan standar pengelolaan event bertaraf internasional.

–

Penulis : Tonny Marandof